Kecil Namun Berarti Banyak
Saya punya kenangan atau kesan yang melekat terhadap Sydney, Australia. Bukan semata-mata karena saya pernah bangga karena anak saya pernah diwisuda di UTS sana. Kesan dan kegembiraan yang berkaitan dengan keberhasilan anak tentu memang membahagiakan orang tua. Paling tidak saat-saat mengikuti prosesi wisuda yang "ritualnya" berbeda dengan prosesi wisuda di UGM dan UI misalnya. Itu manusiawi saja saya kira.
Hal lain yang menyambung terus kenangan saya adalah bahwa, di hari kedua, [setelah terasa cukup lama menikmati sinar matahari pagi yang tetap saja dingin di sebuah café di pinggir jalan] meski matahari sudah berada 45 derajat lebih, saya beranjak dari bangku dan sempat jalan-jalan ke sebuah underpas atau jalan penyebrangan bawah tanah. Ternyata di sana berjejer kios-kios buku yang tidak kalah besar dan apiknya dengan toko-toko buku di mall-mall di Jakarta. Sambil iseng keliling dengan anak saya, saya mencomot atau membeli beberapa buku-buku kecil (ukurannya: sebesar sebuah cover CD) dengan harga antara 1 sampai 5 dollar Australia saja.
Murah-murah memang. Kenapa saya sebut murah, karena kertas-kertasnya bagus dan penuh warna-warni. Saya memang tidak memilih judul-judul serius seperti financial management, strategic planning dsbnya. Saya lebih focus ke hal-hal ringan dan santai tapi dapat mengisi relung-relung otak atau hati dengan tidak memaksa. Tentu saja tidak semua buku saya pelototin dulu baru “deal” namun membeli karena terasa nilai harganya relatif murah dibanding cover dan isinya (meski belum saya baca lengkap). Kedua, judul-judulnya cukup simpatik, seperti: the world, the universe, dan meditation dsbnya. Awalnya memang terasa tak percaya atau aneh juga, bagaimana bisa buku-buku kecil demikian bisa memuat bahasan Dunia, Jagat Raya atau bahkan mengajarkan meditasi misalnya.
Buku-buku itu berselang lama baru saya sempat baca. Karena ada rasa jet lag atau mabuk atau penat udara, karena menempuh perjalan udara tidak kurang dari 8 jam non-stop, Jakarta-Sydney. Sementara, saya tumpuk dulu buku-buku kecil itu di rak dekat kumpulan buku-buku teks spiritual dan agama-agama. Suatu ketika, tukang di rumah yang kebetulan punya selera dan kemampuan seni, bermaksud meminjam gambar-gambar apa saja yang ada di berbagai media atau buku di ruang perpustakaan saya, yang bisa dijadikan acuan membuat lukisan di tembok. Gagasannya, paling tidak nantinya dapat menjadikan ruangan lebih adem atau lebih nyaman, ketimbang polos putih saja atau kuning muda saja
Ternyata, dalam buku yang berjudul the universe, meski halamannya tidak begitu banyak, namun berisi foto-foto fantastik, yang menurut saya, dijepret oleh para penekun fotografi profesional, pada moment-moment yang tiada duanya! Ini simpulan saya, karena sedikit saja bergeser waktu atau berbeda angel, niscaya tidak diperoleh rekaman alamiah sedemikian indah. “Waduh…betul, tidak kemahalan saya membeli buku ini”, kata saya dalam hati. Belum lagi, pada setiap foto itu, sesuai dengan temanya, lalu disertakan kutipan kata-kata indah dari filsuf-filsuf tersohor yang pas dikaitkan dengan gambar atau fotonya, seperti: pada gambar sebuah pohon besar, [yang diambil dari bawah/menengadah] yang batangnya berkelok-kelok menjulang ke langit, diberi skripsi: Every natural things in its own way longs for the Devine and desire to share in the Devine Life as far as it can [Aristotle]. Setiap isi alam ini dengan gaya dan caranya sendiri merindukan Sang Pencipta dan berkehendak untuk berlaku sedapat mungkin sesuai dengan dan di dalam kehidupan Sang Pencipta. Merasuk bener pengaruh foto dan kata-kata itu ke dalam dada saya. {Maaf, saduran ini memang diupayakan senetral mungkin; yang jabaran spesifik-unik ke bahasa agama masing-masing bisa berbeda, kata demi kata.}
Selanjutnya pada sebuah foto gerhana matahari penuh, di mana prenumbra yang menyala kuning dan bercampur merah “ngejreng” di sekitar bulatan hitam pekat sang bulan, dipasangkan kata-kata sbb.: the universe is the outward visible expression of the “Truth” and the “truth” is the inner unseen reality of the universe. (JAMI). Terjemahannya subyektifnya: jagat raya adalah (hanya) bentuk penampakan ke luar dari kebenaran dan kebenaran sesungguhnya adalah realitas terpendam di dalam alam yang tak tampak . Dalam konteks foto diulas di atas, yang terpendam itu adalah bulatan hitam dari bulan, yang disinari dari belakang oleh matahari itu.
Pada foto ketiga, di mana bentangan alam (langit dan puncak-puncak bukit) sedang diliputi dan dibalur dengan sinar pagi yang kaya warna merah muda yang masih lembut serta sang matahari cenderung berwarna kuning keputih-putihan, di bagian bawah foto diberi tulisan putih berbunyi: Suppose a thousand suns should rise together into the sky: such is the glory of the shape of Infinity God [Bhagavad Gita]. Meski umpama ada seribu matahari bersinar bersama, maka itu baru merupakan sebagian bentuk keagungan dari Tuhan yang tak terkirakan. Demikian kurang lebih terjemahannya.
Sebenarnya pada foto halaman pertama, meski tidak berwarna (dalam arti tidak multicolour), alias hanya monokrom, ada close up wajah seorang anak, berambut ikal pendek (kelihatannya keturunan Negro atau anak Afrika) yang menatap optimis ke depan, dengan memegang pipinya dan tersenyum seadanya. Meskipun tentu tidak dimaksudkan dengan mengaitkan bangsa yang difoto menjadi pilihan Tuhan, di situ tertulis: Wheresoever you turn, there is the Face of God [Koran]. Ke mana (dan kepada siapa) pun Anda menoleh, senantiasa ada wajah Tuhan di sana.
Demikianlah nukilan dan respon batin saya, atas (baru) sebagian halaman-halaman penuh gambar mempesona, dari sebuah buku saku, terbitan four season publishing, England itu. Saya mencoba mencari di toko buku di Jakarta, maksudnya untuk dibagi kepada yang ber-interest pada fotografi, namun nihil!
[bersambung]
Memuat materi monolog maupun materi dialog
05 Mei 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar