Wisata rekreasi yang kalau diurai menjadi perjalanan re-kreasi, adalah suatu pengalaman baru di mana kita dapat menikmati suatu lingkungan lengkap ciptaan dari Tuhan Mahapencipta, baik itu pemandangan alam(landscape), permukiman, cuaca dan suasana aman dan damai sekaligus yang sangat berkenan dan merasuk dalam jiwa kita. Pernahkan Anda menikmati hal itu secara simultan/bersamaan? Saya pernah mendapat kesemuanya itu saat berlibur secara pribadi ke Belanda khususnya di sebuah kota di Deventer Belanda.
Kalau kita ke puncak gunung Bromo misalnya di pagi hari, kita pasti sempat takjub dan tapakur begitu melihat pemandangan "asing" terhampar di depan mata. Udaranya juga pasti sejuk dan nyaman dihirup. Kadang-kadang secara tidak sadar kita akan bernafas panjang dibuatnya untuk lebih berasa akan bersih-nyamannya udara di sana.
Namun saya merasakan sesuatu yang lebih,tanpa bermaksud mengecilkan arti keindahan negeri kita, dan mungkin Anda juga perlu membuktikannya; bagaimana nikmatnya jalan-jalan di kota kecil dan juga pedesaan sekitar kota Deventer Belanda, pada musim panas di sana. Tidak perlu lama-lama. Seminggu dua minggu cukuplah.
Saya sarankan di misim panas, karena pada musim itu hawanya masih cukup sejuk bagi kulit kita. Kalau pada musim dingin saya tidak anjurkan karena dinginnya sudah sangat berat dan kita justru tidak mungkin bisa jalan-jalan. Pada musim panas di sana, rasanya seperti di Kintamani pagi hari. Masih cukup dingin, untuk ukuran orang Jakarta atau perkotaan lainnya. Jadi enak jalan ke mana-mana tanpa harus berbaju tebal-tebal dan asyiknya, tidak akan berkeringat.
Deventer, kota yang tidak terlalu besar, baik penduduk maupun luas wilayahnya. Bangunannya pun tidak banyak yang menjulang tinggi-tinggi seperti Singapura misalnya, sehingga karenanya kita merasa terjepit oleh pencakar-pencakar langit dari beton. Di Deventer, terasa serba rapi baik menyangkut penataan perumahan, flat, dan kompleks pertokoannya (yang disebut di sana dengan Centrum). Centrum, dengan arsitektur khas eropa dan kebanyakan bangunan tua dan antik, diletakkan di tengah-tengah kota, sehingga mudah dijangkau dari segala arah. Drainase atau saluran air di kiri kanan jalan pertokoan tertutup rapi sehingga kita bisa jalan-jalan dengan leluasa dan tak perlu takut akan terantuk karena peninggian atau terjerumus karena ada lobang. Halaman toko hampir rata dengan halaman jalan; sehingga kalau ada orang tua/jompo yang datang dengan mengendarai kendaraannya (bermesin tetapi tidak berisik), maka ia bisa langsung masuk ke dalam sambil tetap mengendarai kedaraannya.
Demikianlah perencanaan kotanya, yang betul-betul memperhatikan sebanyak mungkin kepentingan masyarakatnya. Tidak hanya bagi orang-orang yang masih kuat jalan kaki, namun juga bagi para lansia (lanjut usia) yang tidak kuat lagi berjalan kaki, namun bisa menggunakan kendaraan atau kursi roda dan sejenisnya. Yang lebih dedikatif lagi, adalah bus kota yang juga didesain sangat manusiawi. Level lantai bus dibuat demikian rendah sehingga memungkinkan para jompo masuk dengan sekaligus membawa atau tetap duduk di atas kursi rodanya. Tentu saja, lantai halte tempat menunggu bus demikian juga sudah dirancang selevel atau sama tinggi dengan lantai busnya. Tidakkah khawatir dengan banjir yang sewaktu-waktu menghadang bus dan menggelontor toko? Di situlah kelebihan negeri kincir angin ini. Banyak dikunjungi bukan saja oleh para tourist umum, juga oleh para ahli lingkungan untuk mempelajari bagaimana bisa negeri yang permukaan tanahnya di bawah permukaan laut ini, pintar mengendalikan air sehingga bebas dari banjir!
Ini berarti, para lansia invalid di sana tidak terkungkung di dalam rumah menunggu ajal; tapi masih bisa "aktif" ke sana ke mari dengan peralatan bantuannya, baik yg bermesin (electrik) maupun manual. Dan sesuai budaya di sana juga, para orang tua yang masih bersemangat hidup demikian tidak perlu "dikasihani" secara berlebihan; mereka juga tidak terlalu suka dibantu sehingga membebani orang lain, termasuk keluarganya yang masih produktif. Maka jangan kaget, kalau sedang asyik-asyiknya kita ke luar masuk toko, atau saat berjalan di depan toko, ada kendaraan roda tiga [tapi bukan Bajajnya Bajuri Lho!)lewat tanpa suara. Pastilah orangtua yang mengendarai sendiri kendaraan "open cap"nya sedang menuju mal atau toko sayuran. O ya, kelihatannya di sana, jalan kompleks pertokoan tidak bisa dimasuki oleh kendaraan, selain sepeda dan kendaraan orang cacat. Kendaraan-kendaraan harus parkir agak jauh di luar kompleks. Inilah kelebihannya, sehingga di sana kita berbelanja tidak merasa was-was saat berada di jalan pertokoan. [Banyak lagi nilai lebih, shopping di sana, yang akan diceritakan lain kesempatan]
Tidak pernah sebelumnya saya menduga, bahwa para oarang tua jompo di sana betul-betul dipelihara oleh negara, seperti halnya bunyi undang-undang dasar negara kita punya amanat. Mereka "diindekostkan" atas beban negara dalam beberapa flat yang sangat terpelihara dan terjaga dengan baik. Terpelihara maksudnya, rumah dan tamannya dibuat asri dan tetap bersih layaknya sebuah hotel berbintang. Terjaga maksudnya, para manula itu juga ditemani (untuk tidak menyebut dibantu) oleh suster-suster dan para relawan yang berdedikasi. Mereka bergaul sesama nasib/usia tanpa harus bergantung pada anak-anaknya yang masih produktif.[Karena biaya ditanggung negara] Justru para keluarganya, bila kangen, bisa datang menengok pada hari-hari libur ke panti-panti peristirahatan orangtua mereka. Terkait itu, saya tidak pernah melihat ada pengamen di jalan raya.
Jalan raya di Denventer juga punya keunikan dan daya-kenang sendiri. Di samping ada jalur kendaraan mobil, ada juga jalur bahkan lajur khusus untuk sepeda. Pohon-pohon penaung jalan dan pejalan kaki berjejer di kiri kanan jalan. Hamparan bunga juga sangat banyak kita saksikan karena penghuni rumah/gedung di sana semua suka dengan keindahan. Kanal air dengan airnya yang bersih mengalir tidak deras, layaknya menggambarkan ketenangan dan kestabilan masyarakatnya.
Burung-burung pun bercanda ria di pematang sungai-sungai dalam kota itu, tanpa takut diusik manusia. Ini membuktikan lagi bahwa masyarakat di sana tidak suka memburu atau menyakiti binatang, termasuk bebek-bebek liar yanag datang bergerombol. Kita pun bebas mengamati dan mengambil fotonya sedekat dan sesuka kita.
Populasi sepeda tampaknya terbanyak di kota tersebut, dibanding kendaraan lainnya. [Saya jadi teringat Yogyakarta jaman dulu, semasa kuliah di UGM tahun 70-an] Di sasana olah raga, pertokoan, stasiun kereta api berjejer dengan rapi berbagai jenis dan model sepeda. Tidak ada yang jaga tentu saja, karena di sana kekurangan orang. Juga karenanya tidak perlu bayar parkir meskipun sepedanya diparkir/ditinggal dua hari atau lebih. Mahasiswa kita yang ngendon disana mengatakan aman-aman saja, seperti amannya Bali di tahun 60-an.
Lalu bagaimanakah dengan kehidupan bus kotanya? Semrawutkah seperti halnya di negeri kita, Jakarta khususnya? Adakah pesan yang berbunyi: "Dilarang mendahului sesama bis kota"? Jauh...jauh sekali bedanya. Di sana bus kota tidak pakai kondektur. Sekali lagi karena kurang orang. Cukup sopir satu dan pakai dasi dengan segala perangkat kendali dan kelengkapannya. Jadi tidak ada yang berisik teriak, teriak memanggil calon penumpang. Begitu mendekati sebuah halte, akan ada rekaman suara memberitahukan nama haltenya sekaligus rute yang dilalui di video yang tergantung di atas kepala sopir. Penumpang tinggal pencet bel yang tersedia dekat tempat duduk masing-masing, kalau setuju dengan informasi yang diberikan.
Tidak ada kebut-kebutan karena masing-masing bus berangkat dan sampainya sesuai dengan jam dan menit yang sudah ada dalam jadual/tabel. Sopirnya digaji cukup. Dan jadual itu terpampang dengan jelas di setiap terminal. Dengan demikian, setiap warga, yang akan mencegat bus di salah satu terminal, akan hafal nomor busnya dan tahu jam sampainya di terminal tersebut. Inilah juga suatu faktor penting mengapa warga kotanya tidak ada yang dipusingkan oleh sarana angkot atau angkutan kotanya. Apakah pada jam sibuk (jam berngkat/pulang kerja) tidak berdesakan? Tidak juga! Karena memang sudah serba terukur, antara wadah dan isi. Bahkan menurut pengamatan, bus-bus demikian cenderung over-capacity. Jadinya kita penumpang tetap lega dibuatnya. Pertama karena memang tidak sesak, kedua karena busnya sangat bersih dan tempat duduknya empuk. Speednya konstan, tidak anjrut-anjrutan, ngerem seenaknya karena menaikkan dan menurunkan penumpang di semabarang tempat. Sebabnya itu tadi, mereka tidak melayani penumpang yang tidak naik di halte. Mengapa penumpang tidak mungkin naik di sembarang tempat, karena pintu bus hanya dibuka oleh sopirnya secara electrik pada saat berhenti di haltenya. Well, semua saling mendukung untuk menciptakan kemaslahatan bagi warganya.[Lain kesempatan, kita cerita tentang bagaimana sistem pembayaran penumpang bus serta peran taksi di sana]
Menangkap lanskap merajut paragrap
Memuat materi monolog maupun materi dialog
29 Oktober 2008
05 Mei 2008
Wisata Ilmu
Kecil Namun Berarti Banyak
Saya punya kenangan atau kesan yang melekat terhadap Sydney, Australia. Bukan semata-mata karena saya pernah bangga karena anak saya pernah diwisuda di UTS sana. Kesan dan kegembiraan yang berkaitan dengan keberhasilan anak tentu memang membahagiakan orang tua. Paling tidak saat-saat mengikuti prosesi wisuda yang "ritualnya" berbeda dengan prosesi wisuda di UGM dan UI misalnya. Itu manusiawi saja saya kira.
Hal lain yang menyambung terus kenangan saya adalah bahwa, di hari kedua, [setelah terasa cukup lama menikmati sinar matahari pagi yang tetap saja dingin di sebuah café di pinggir jalan] meski matahari sudah berada 45 derajat lebih, saya beranjak dari bangku dan sempat jalan-jalan ke sebuah underpas atau jalan penyebrangan bawah tanah. Ternyata di sana berjejer kios-kios buku yang tidak kalah besar dan apiknya dengan toko-toko buku di mall-mall di Jakarta. Sambil iseng keliling dengan anak saya, saya mencomot atau membeli beberapa buku-buku kecil (ukurannya: sebesar sebuah cover CD) dengan harga antara 1 sampai 5 dollar Australia saja.
Murah-murah memang. Kenapa saya sebut murah, karena kertas-kertasnya bagus dan penuh warna-warni. Saya memang tidak memilih judul-judul serius seperti financial management, strategic planning dsbnya. Saya lebih focus ke hal-hal ringan dan santai tapi dapat mengisi relung-relung otak atau hati dengan tidak memaksa. Tentu saja tidak semua buku saya pelototin dulu baru “deal” namun membeli karena terasa nilai harganya relatif murah dibanding cover dan isinya (meski belum saya baca lengkap). Kedua, judul-judulnya cukup simpatik, seperti: the world, the universe, dan meditation dsbnya. Awalnya memang terasa tak percaya atau aneh juga, bagaimana bisa buku-buku kecil demikian bisa memuat bahasan Dunia, Jagat Raya atau bahkan mengajarkan meditasi misalnya.
Buku-buku itu berselang lama baru saya sempat baca. Karena ada rasa jet lag atau mabuk atau penat udara, karena menempuh perjalan udara tidak kurang dari 8 jam non-stop, Jakarta-Sydney. Sementara, saya tumpuk dulu buku-buku kecil itu di rak dekat kumpulan buku-buku teks spiritual dan agama-agama. Suatu ketika, tukang di rumah yang kebetulan punya selera dan kemampuan seni, bermaksud meminjam gambar-gambar apa saja yang ada di berbagai media atau buku di ruang perpustakaan saya, yang bisa dijadikan acuan membuat lukisan di tembok. Gagasannya, paling tidak nantinya dapat menjadikan ruangan lebih adem atau lebih nyaman, ketimbang polos putih saja atau kuning muda saja
Ternyata, dalam buku yang berjudul the universe, meski halamannya tidak begitu banyak, namun berisi foto-foto fantastik, yang menurut saya, dijepret oleh para penekun fotografi profesional, pada moment-moment yang tiada duanya! Ini simpulan saya, karena sedikit saja bergeser waktu atau berbeda angel, niscaya tidak diperoleh rekaman alamiah sedemikian indah. “Waduh…betul, tidak kemahalan saya membeli buku ini”, kata saya dalam hati. Belum lagi, pada setiap foto itu, sesuai dengan temanya, lalu disertakan kutipan kata-kata indah dari filsuf-filsuf tersohor yang pas dikaitkan dengan gambar atau fotonya, seperti: pada gambar sebuah pohon besar, [yang diambil dari bawah/menengadah] yang batangnya berkelok-kelok menjulang ke langit, diberi skripsi: Every natural things in its own way longs for the Devine and desire to share in the Devine Life as far as it can [Aristotle]. Setiap isi alam ini dengan gaya dan caranya sendiri merindukan Sang Pencipta dan berkehendak untuk berlaku sedapat mungkin sesuai dengan dan di dalam kehidupan Sang Pencipta. Merasuk bener pengaruh foto dan kata-kata itu ke dalam dada saya. {Maaf, saduran ini memang diupayakan senetral mungkin; yang jabaran spesifik-unik ke bahasa agama masing-masing bisa berbeda, kata demi kata.}
Selanjutnya pada sebuah foto gerhana matahari penuh, di mana prenumbra yang menyala kuning dan bercampur merah “ngejreng” di sekitar bulatan hitam pekat sang bulan, dipasangkan kata-kata sbb.: the universe is the outward visible expression of the “Truth” and the “truth” is the inner unseen reality of the universe. (JAMI). Terjemahannya subyektifnya: jagat raya adalah (hanya) bentuk penampakan ke luar dari kebenaran dan kebenaran sesungguhnya adalah realitas terpendam di dalam alam yang tak tampak . Dalam konteks foto diulas di atas, yang terpendam itu adalah bulatan hitam dari bulan, yang disinari dari belakang oleh matahari itu.
Pada foto ketiga, di mana bentangan alam (langit dan puncak-puncak bukit) sedang diliputi dan dibalur dengan sinar pagi yang kaya warna merah muda yang masih lembut serta sang matahari cenderung berwarna kuning keputih-putihan, di bagian bawah foto diberi tulisan putih berbunyi: Suppose a thousand suns should rise together into the sky: such is the glory of the shape of Infinity God [Bhagavad Gita]. Meski umpama ada seribu matahari bersinar bersama, maka itu baru merupakan sebagian bentuk keagungan dari Tuhan yang tak terkirakan. Demikian kurang lebih terjemahannya.
Sebenarnya pada foto halaman pertama, meski tidak berwarna (dalam arti tidak multicolour), alias hanya monokrom, ada close up wajah seorang anak, berambut ikal pendek (kelihatannya keturunan Negro atau anak Afrika) yang menatap optimis ke depan, dengan memegang pipinya dan tersenyum seadanya. Meskipun tentu tidak dimaksudkan dengan mengaitkan bangsa yang difoto menjadi pilihan Tuhan, di situ tertulis: Wheresoever you turn, there is the Face of God [Koran]. Ke mana (dan kepada siapa) pun Anda menoleh, senantiasa ada wajah Tuhan di sana.
Demikianlah nukilan dan respon batin saya, atas (baru) sebagian halaman-halaman penuh gambar mempesona, dari sebuah buku saku, terbitan four season publishing, England itu. Saya mencoba mencari di toko buku di Jakarta, maksudnya untuk dibagi kepada yang ber-interest pada fotografi, namun nihil!
[bersambung]
Saya punya kenangan atau kesan yang melekat terhadap Sydney, Australia. Bukan semata-mata karena saya pernah bangga karena anak saya pernah diwisuda di UTS sana. Kesan dan kegembiraan yang berkaitan dengan keberhasilan anak tentu memang membahagiakan orang tua. Paling tidak saat-saat mengikuti prosesi wisuda yang "ritualnya" berbeda dengan prosesi wisuda di UGM dan UI misalnya. Itu manusiawi saja saya kira.
Hal lain yang menyambung terus kenangan saya adalah bahwa, di hari kedua, [setelah terasa cukup lama menikmati sinar matahari pagi yang tetap saja dingin di sebuah café di pinggir jalan] meski matahari sudah berada 45 derajat lebih, saya beranjak dari bangku dan sempat jalan-jalan ke sebuah underpas atau jalan penyebrangan bawah tanah. Ternyata di sana berjejer kios-kios buku yang tidak kalah besar dan apiknya dengan toko-toko buku di mall-mall di Jakarta. Sambil iseng keliling dengan anak saya, saya mencomot atau membeli beberapa buku-buku kecil (ukurannya: sebesar sebuah cover CD) dengan harga antara 1 sampai 5 dollar Australia saja.
Murah-murah memang. Kenapa saya sebut murah, karena kertas-kertasnya bagus dan penuh warna-warni. Saya memang tidak memilih judul-judul serius seperti financial management, strategic planning dsbnya. Saya lebih focus ke hal-hal ringan dan santai tapi dapat mengisi relung-relung otak atau hati dengan tidak memaksa. Tentu saja tidak semua buku saya pelototin dulu baru “deal” namun membeli karena terasa nilai harganya relatif murah dibanding cover dan isinya (meski belum saya baca lengkap). Kedua, judul-judulnya cukup simpatik, seperti: the world, the universe, dan meditation dsbnya. Awalnya memang terasa tak percaya atau aneh juga, bagaimana bisa buku-buku kecil demikian bisa memuat bahasan Dunia, Jagat Raya atau bahkan mengajarkan meditasi misalnya.
Buku-buku itu berselang lama baru saya sempat baca. Karena ada rasa jet lag atau mabuk atau penat udara, karena menempuh perjalan udara tidak kurang dari 8 jam non-stop, Jakarta-Sydney. Sementara, saya tumpuk dulu buku-buku kecil itu di rak dekat kumpulan buku-buku teks spiritual dan agama-agama. Suatu ketika, tukang di rumah yang kebetulan punya selera dan kemampuan seni, bermaksud meminjam gambar-gambar apa saja yang ada di berbagai media atau buku di ruang perpustakaan saya, yang bisa dijadikan acuan membuat lukisan di tembok. Gagasannya, paling tidak nantinya dapat menjadikan ruangan lebih adem atau lebih nyaman, ketimbang polos putih saja atau kuning muda saja
Ternyata, dalam buku yang berjudul the universe, meski halamannya tidak begitu banyak, namun berisi foto-foto fantastik, yang menurut saya, dijepret oleh para penekun fotografi profesional, pada moment-moment yang tiada duanya! Ini simpulan saya, karena sedikit saja bergeser waktu atau berbeda angel, niscaya tidak diperoleh rekaman alamiah sedemikian indah. “Waduh…betul, tidak kemahalan saya membeli buku ini”, kata saya dalam hati. Belum lagi, pada setiap foto itu, sesuai dengan temanya, lalu disertakan kutipan kata-kata indah dari filsuf-filsuf tersohor yang pas dikaitkan dengan gambar atau fotonya, seperti: pada gambar sebuah pohon besar, [yang diambil dari bawah/menengadah] yang batangnya berkelok-kelok menjulang ke langit, diberi skripsi: Every natural things in its own way longs for the Devine and desire to share in the Devine Life as far as it can [Aristotle]. Setiap isi alam ini dengan gaya dan caranya sendiri merindukan Sang Pencipta dan berkehendak untuk berlaku sedapat mungkin sesuai dengan dan di dalam kehidupan Sang Pencipta. Merasuk bener pengaruh foto dan kata-kata itu ke dalam dada saya. {Maaf, saduran ini memang diupayakan senetral mungkin; yang jabaran spesifik-unik ke bahasa agama masing-masing bisa berbeda, kata demi kata.}
Selanjutnya pada sebuah foto gerhana matahari penuh, di mana prenumbra yang menyala kuning dan bercampur merah “ngejreng” di sekitar bulatan hitam pekat sang bulan, dipasangkan kata-kata sbb.: the universe is the outward visible expression of the “Truth” and the “truth” is the inner unseen reality of the universe. (JAMI). Terjemahannya subyektifnya: jagat raya adalah (hanya) bentuk penampakan ke luar dari kebenaran dan kebenaran sesungguhnya adalah realitas terpendam di dalam alam yang tak tampak . Dalam konteks foto diulas di atas, yang terpendam itu adalah bulatan hitam dari bulan, yang disinari dari belakang oleh matahari itu.
Pada foto ketiga, di mana bentangan alam (langit dan puncak-puncak bukit) sedang diliputi dan dibalur dengan sinar pagi yang kaya warna merah muda yang masih lembut serta sang matahari cenderung berwarna kuning keputih-putihan, di bagian bawah foto diberi tulisan putih berbunyi: Suppose a thousand suns should rise together into the sky: such is the glory of the shape of Infinity God [Bhagavad Gita]. Meski umpama ada seribu matahari bersinar bersama, maka itu baru merupakan sebagian bentuk keagungan dari Tuhan yang tak terkirakan. Demikian kurang lebih terjemahannya.
Sebenarnya pada foto halaman pertama, meski tidak berwarna (dalam arti tidak multicolour), alias hanya monokrom, ada close up wajah seorang anak, berambut ikal pendek (kelihatannya keturunan Negro atau anak Afrika) yang menatap optimis ke depan, dengan memegang pipinya dan tersenyum seadanya. Meskipun tentu tidak dimaksudkan dengan mengaitkan bangsa yang difoto menjadi pilihan Tuhan, di situ tertulis: Wheresoever you turn, there is the Face of God [Koran]. Ke mana (dan kepada siapa) pun Anda menoleh, senantiasa ada wajah Tuhan di sana.
Demikianlah nukilan dan respon batin saya, atas (baru) sebagian halaman-halaman penuh gambar mempesona, dari sebuah buku saku, terbitan four season publishing, England itu. Saya mencoba mencari di toko buku di Jakarta, maksudnya untuk dibagi kepada yang ber-interest pada fotografi, namun nihil!
[bersambung]
Langganan:
Postingan (Atom)